Masa-Masa Kuliah di ITS Surabaya

 

“Saya memilih tinggal di Asrama agar bisa menghemat biaya kuliah”

 

“Urusan daftar kuliah sudah diselesaikan. Tinggal sekarang mau cari tempat kost”. Saya pilih kost di Asrama Mahasiswa Pucang Anom. Disitu banyak ada teman-teman dari Singaraja. Saya diajaknya karena saya bilang dari Singaraja.

 

Saya tinggal di Asrama ini tidak lama, hanya beberapa bulan. Karena pemerintah kota Surabaya sudah memutuskan untuk menggusur Asrama ini untuk dijadikan komplek pertokoan. Awalnya teman-teman sempat ngotot agar tetap bisa tinggal di asrama tersebut. Saya pun ikut rapat di kantor Sospol Surabaya. Teman-teman tidak bisa berbuat banyak. Akhirnya kita rela dengan konpensasi pesangon 1,2 juta tiap orang.

 

Dari Asrama Pucang Anom saya pindah ke asrama mahasiswa ITS. Letaknya berdampingan dengan  kampus ITS. Di Asrama ini ada 2 pengelola dengan pembagian beberapa blok.Saya pilih salah satu pengelola dan menempati kamar B102. Tinggal ber empat dalam satu kamar. Peraturan mengharuskan hanya bisa tinggal di asrama selama 2 tahun.

 

Akhirnya saya mencoba mendekati pengelola lainnya. Saya diberi kesempatan tinggal di Asrama tersebut namun di pengelola lainnya. Saya pindah ke Blok A.

 

Tinggal di Arama ITS saya bisa menghemat biaya kuliah. Biaya kamar dan makan 3 kali sehari hanya 40 ribu rupiah sebulan. Jadi tiap bulan saya mendapat kiriman wesel dari paman sebesar 60 ribu rupiah. Sisa uangnya saya cukupkan untuk beli susu dan sabun. Untuk biaya SPP 120 ribu tiap semester, saya suruh orang tua untuk cari utang.

 

Untuk biaya beli buku, saya mencoba mengajukan Beasiswa. Sejak semester 3 saya mendapat beasiswa sebesar 50 ribu tiap bulan. Biaya ini sangat membantu sekali untuk mencukupi kebutuhan beli buku dan peralatan kuliah lainnya.

 

Setelah empat tahun tinggal di asrama, saya keluar dan mencari tempat kost di dekat kampus. Biaya kost saat itu 70 ribu rupiah per kamar tiap bulan. Saya tinggal berdua, jadi saya cukup membayar 35 ribu rupiah.

 

Karena saya tinggal diluar asrama dan sudah di semester 9, kiriman tiap bulannya dinaikkan menjadi 100 ribu.

 

Menyadari tidak punya biaya kuliah dari orang tua, saya tidak mau membebaninya terlalu lama. Saya paksakan untuk selesai kuliah sampai semester 9 saja. Saya tidak mau mengulang nilai-nilai yang rendah. Pokoknya lulus sudah cukup bagi saya. Saat semester 9.saya ambil semua mata kuliah yang tersisa yaitu 21 SKS. Padahal semua mata kuliahnya cukup berat. Ada kerja praktek ke dua di Petrokimia Gresik dan praktikum di laboratorium keahlian. Ada kuliah pilihan lainnya dan juga saya harus bolak-balik dari Surabaya ke Semen Gresik untuk mencari bahan Tugas Akhir.

 

Perasaan saya gembira sekali ketika selesai ujian tugas akhir. Dosen penguji menyatakan saya lulus. Mata kuliah lainnya pun lulus semua. Jadi dengan berbekal semangat yang tinggi, saya bisa menyelesaikan kuliah sampai di semester 9 saja. Tekad saya terpenuhi. Bayangkan kalau misalnya saya sampai mundur 1 semester lagi pasti akan keluar beberapa juta lagi.  Bukankah ini menambah beban orang tua lagi?

 

(end / nengahsanta@yahoo.com / Baku 01 Jan 05)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.