Di Terima di ITS Surabaya

 

Menjadi anak petani yang bisa kuliah di ITS Surabaya, sungguh ini karunia Tuhan

 

Saya tidak pernah awalnya membayangkan bisa kuliah. Saya menyadari betul latar belakang orang tua saya. Orang tua saya adalah petani di sawah dan di kebun. Penghasilannya hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari.

 

Oleh karenanya, saat kelas tiga di SMA N 1 Singaraja saya sudah memutuskan untuk cukup sekolah sampai tamat SMA. Saya ingin mencari kerja agar bisa membantu adik saya yang masih duduk di SD dan SMP.

 

Saya kirim surat kepada Maman Nila (biasa saya panggil demikian, paman adik dari ibu). Paman saya saat itu bekerja di Bontang- Kaltim. Saya ceritakan niat saya tersebut. Paman saya malah menanggapi lain. Saya disarankan belajar yang rajin, nanti setelah tamat  SMA, saya diminta memilih jurusan teknik mesin di ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya.

 

Sepertinya, semangat saya untuk melanjutkan sekolah dihidupkan lagi oleh paman saya. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Yang saya lakukan adalah cukup belajar giat agar bisa diterima di perguruan tinggi.

 

Begitu tamat SMA pada tahun 1989, saya tidak pulang ke kampung. Saya melanjutkannya dengan ikut bimbingan Test di Uranus Singaraja. Tempatnya di SMA N 1 juga. Saat bimbingan ada teman Tanya:”Santa pilih jurusan apa nanti?”. Saya jawab:” Saya mau kuliah di D2 matematika di STKIP Singaraja”. Saya jawab demikian karena saya tidak mau muluk-muluk menyatakan keinginan kuliah di Surabaya.

 

Bimbingan Test sudah selesai. Saya berangkat ke Denpasar untuk daftar UMPT (ujian masuk perguruan tinggi). Pilihan pertama saya di Teknik Mesin-ITS dan pilhan kedua di Teknik Mesin-Universirtas Brawijaya-Malang.

 

Sampai di Denpasar, keinginan kuliah saya dikaburkan oleh Bi Yoni (Adik Ibu). Saya disarankan kuliah tahun depannya saja. Namun karena saya sudah terlanjur daftar UMPT, ya saya tetap ikuti saja testnya. Jadinya saat test saya betul-betul tidak ada beban.

 

Saat test UMPT, saya duduk paling depan. Pikiran tenang dan sangat rilek menjawab soal UMPT tersebut. Tiba waktunya pengumunan hasil UMPT, saya diberi tahu oleh tetangga di  Monang-Maning –Denpasar, bahwa saya di diterima di ITS.

 

Saya gembira dan langsung dingin karena menyadari tidak akan dikuliahkan. Lima hari setelah pengumuman saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian malamnya saya berdoa agar saya diberi kekuatan untuk kuliah.

 

Saya pulang ke kampung, Sambil menangis saya meminta kepada orang tua agar dipinjamkan uang untuk biaya daftar di ITS. Dengan jaminan kebun, bapak saya bisa pinjam uang sebesar 400 ribu rupiah dari Pak Made Are. 

 

Saya akhirnya berangkat juga ke Surabaya. Saya naik bis Bali Cepat,dari Denpasar menuju Surabaya. Saya berangkat sendiri, tidak diantar siapa-siapa. Saya simpang uang 400 ribu rupiah tersebut di telapak kaki, karena takut di rampok.

 

Sampai di Terminal Bratang Surabaya, saya dikelilingi tukang becak. Saya bilang saya mau makan dulu. Saya istirahat sejenak sambil makan soto. Selesai  makan saya pilh salah satu becak untuk diantar ke salah seorang tempat kost  di Sukolilo. Saya titipkan dan berikan semua oleh-oleh di tempat kost tersebut dan selanjutnya saya langsung daftar di kampus ITS di Keputih- Sukolilo. Karena hari itu adalah hari terkahir.

 

Saat itu status saya sudah resmi menjadi orang kuliahan dengan nomer mahasiswa 289-210-1225. Orang di kampung mungkin tidak akan pernah percaya saya bisa kuliah, apalagi kuliah di luar Bali. 

 

Terima kasih Tuhan. Saya selalu diberikan jalan yang terbaik.

 

(end / nengahsanta@yahoo.com / Baku, 01 Jan 05)

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.