Kebahagian tersendiri bagi mereka berkeluarga yang telah memiliki anak. Apalagi sebagai orang Bali, saya dan istri di karunia seorang putra sebagai penerus generasi kami kelak.
Masa-masa kehamilan istri saya, saya masih kerja di PT MKPI- Batam. Saat itu situasinya terasa agak sulit. Saya lebih sering pulang malam karena tuntutan kerja. Praktis istri dibiarkan sendirian dirumah. Namum istri saya bisa mengerti keadaan ini, mungkin karena terpaksa? Yang jelas persiapan perlengkapan sebelum melahirkan sudah disiapkannya jauh-jauh hari.
Dimasa kehamilan, saya sebenarnya menginginkan keluar dari tempat kerja agar bisa kembali kerja normal. Tapi yang saya alami adalah terasa sulit bisa diterima ditempat lain. Saya sering melakukan test sampai akhir tapi kandas juga.
Mungkin ini keinginan anak saya agar terlahir dari biaya kesehatan pihak MKPI.
Hari itu, Sabtu 24 Agustus 2002 jam 5 pagi suasana diluar masih sepi. Istri saya membangunkan saya.” Pa…keluar cairan” katanya. Saya mencoba untuk tenang. Saya bilang :” Wah ..pecah ketuban”. Saya bergegas mengambil semua perlengkapan yang telah disiapkan oleh istri saya. Mobil Minibus L300 saya hidupkan. Saya segera berangkat ke Budi Kemuliaan di pagi buta itu.
Emosi saya cukup tenang, sayang istri terlihat agak panik.
Setelah sampai di Budi kemuliaan, istri saya diperiksa oleh dokter kandungan bernama dr. Suyanto. Catatan pemeriksaan jantung anak saya agak tidak stabil akibat kepanikan istri saya. Istri saya diberikan suntikan perangsang agar bukaannya cepat terbuka. Awalnya masih bukaan satu. Ini berbahaya kalau tidak dirangsang karena sudah pecah ketuban.
Setelah langkah pertolongan pertama selesai istri saya dipindahkan ke ruangan kelas 1. Saya mulai menyalakan dupa untuk sembahyang agar semuanya berjalan lancar dan selamat.
Pagi itu datang adik saya, ketut Santosa dan Putu Suka. Juga datang siangnya Pak Gede Wiryada sekeluarga. Istrinya yang banyak membantu sambil memberi dorongan agar tetap tenang.
Waktu demi waktu istri saya meraung kesakitan akibat obat perangsang tadi. Saya coba tabahkan hatinya sambil berdoa Gayatri mantram dalam hati. Saya tahu pasti yang dirasakan istri luar biasa sakitnya. Jam 01 siang mulai dipindahkan lagi ke kamar tempat melahirkan. Saya juga ikut masuk didalamnya, karena diijinkan oleh dokter Suyanto. Bahkan saya memang diminta untuk menemaninya.
Saat itu saya tahu betul bagaimana proses kelahiran terjadi. Istri saya diminta menarik nafas kuat-kuat, saya berada disampingnya sambil berdoa Gayatri. “kepalanya sudah mulai nampak”, kata saya dalam hati. Istri saya diminta menarik nafas lebih kuat lagi untuk mendorong bayi itu keluar. Sambil mendelik matanya, istri saya menarik nafas dengan kuat.
Jam 01.15 siang terlahir bayi tersebut. Istri saya baru merasa lega setelah bayinya keluar. kemudian saya menemani suster memandikan bayi. Dokter menjarit kembali kemaluan yang dirobeknya.
Saya berikan uang suster tersebut untuk dibelikan susu Morinaga. Bayi saya lahir sehat dan selamat. Kemudian dibawanya ke ruang khusus tempat bayi yang baru lahir. Istri saya dipindahkan ke kamar inap.
Hati saya senang, gembira dan terharu. Susah untuk mengatakan dengan kata-kata. Yang jelas saya bahagia sekali.
Semuanya sudah tenang. Saya mulai membersihkan ari-ari bayi saya. Saya cuci sebersih-bersihnya. Saya buang dulu sisa darah yang menempel, kemudian saya cuci 2 kali dengan sabun.
Sudah nampak bersih, saya masukkan kedalam priuk tanah yang telah disiapkan dan segera di bawa pulang untuk ditanam didepan rumah.
Saya berangkat pulang ke rumah di Klasik B/04 Batuaji. Sebelum pulang saya mampir dulu ke rumah seorang Dada di Sei panas. “Dada…mohon beri nama anakku”, pintaku. Diberilah nama “ Raditya Susantha”, dan kemudian saya tambahkan “Putu” didepannya sebagai hal yang biasa untuk anak pertama lahir bagi orang Bali. Jadi nama lengkapnya:” Putu Raditya Susantha”
Saya pulang ke rumah dengan berbekal nama tersebut. Putu Suka mulai mencangkul tanah didepan pekarangan sebelah kanan. Sebelah kanan artinya karena anak saya lahir laki-laki. Setelah siap, saya masukkan ari-ari tersebut dan semua perlengkapan yang diperlukan. Sambil berdoa saya mengubur ari-ari tersebut.
Keesokan harinya istri saya sudah dibolehkan pulang.
Kami sekeluarga sangat berbahagia sekali. Orang tua dan mertuaku pasti sangat senang. Anakku lahir normal tanpa ada masalah. Rambutnya pun sangat tebal. “Kami senang… Terimakasih Tuhan, Terimakasih pak dokter dan suster. Terima kasih kepada semua pihak yang membantu”.
(end / nengahsanta@yahoo.com / Baku 02 Jan 05)
Filed under: PerjalananKu Tagged: | Anak